TUGAS
TERSTRUKTUR
PERSAINGAN
SUBSTITUSI DAN ELIMINASIELIMINASI PADA ALKIL HALIDA
Ditinjau
reaksi antara alkil halida dengan kalium hidroksida yang dilarutkan
dalam metil alkohol. Nukleofilnya adalah ion hidroksida, OH-, yaitu nukleofil kuat
dan sekaligus adalah basa kuat. Pelarut alkohol kurang polar jika dibandingkan
dengan air. Keadaan-keadaan ini menguntungkan proses-proses SN2 dan E2 jika
dibandingkan dengan SN1 dan E1.
dalam metil alkohol. Nukleofilnya adalah ion hidroksida, OH-, yaitu nukleofil kuat
dan sekaligus adalah basa kuat. Pelarut alkohol kurang polar jika dibandingkan
dengan air. Keadaan-keadaan ini menguntungkan proses-proses SN2 dan E2 jika
dibandingkan dengan SN1 dan E1.
pada
Alkik halida sekunder (20) akan terjadi persaingan antara SN2 dan E2
serta sering mengasilkan produk campuran. Jika memakai basa lemah dengan
pelarut tak berproton yang polar, hasil reaksinya adalah SN2, namun jika
memakai basa kuat seperti CH3CH2O-, OH-,
atau NH2-, maka hasil E2 lebih dominan.
Hasilnya
adalah campuran 1-butanol dan 1-butena. Reaksi SN2 cenderung terjadi jika
digunakan pelarut yang lebih polar (air), konsentrasi basa yang sedang, dan suhu
sedang. Reaksi E2, cenderung terjadi jika digunakan pelarut yang kurang polar,
konsentrasi basa yang tinggi, dan suhu tinggi.
Seandainya kita mengganti alkil halida primer menjadi tersier, reaksi substitusi
akan terhambat (ingat, urutan reaktivitas untuk reaktivitas SN2 adalah 1o >2o >> 3o).
Tetapi, reaksi eliminasi akan cenderung terjadi karena hasilnya adalah alkena yang
lebih tersubtitusi. Pada kenyataannya, dengan t-butil bromida, hanya proses E2 yang terjadi.
digunakan pelarut yang lebih polar (air), konsentrasi basa yang sedang, dan suhu
sedang. Reaksi E2, cenderung terjadi jika digunakan pelarut yang kurang polar,
konsentrasi basa yang tinggi, dan suhu tinggi.
Seandainya kita mengganti alkil halida primer menjadi tersier, reaksi substitusi
akan terhambat (ingat, urutan reaktivitas untuk reaktivitas SN2 adalah 1o >2o >> 3o).
Tetapi, reaksi eliminasi akan cenderung terjadi karena hasilnya adalah alkena yang
lebih tersubtitusi. Pada kenyataannya, dengan t-butil bromida, hanya proses E2 yang terjadi.
Jadi, bagaimana kita mengubah butil bromida tersier
menjadi alkoholnya? Kita
tidak menggunakan ion hidroksida, melainkan air. Air merupakan basa yang lebih
lemah daripada ion hidroksida, sehingga reaksi E2 ditekan. Air juga merupakan
pelarut polar, yang menguntungkan mekanisme ionisasi. Dalam hal ini, E1 tidak
dapat dihindari sebab persaingan antara E1 dan SN1 cukup berat.
Hasil utama adalah hasil subtitusi (80%), tetapi eliminasi masih terjadi (20%).
Ringkasannya, halida tersier bereaksi dengan basa kuat dalam pelarut nonpolar
memberikan eliminasi (E2), bukan subtitusi. Dengan basa lemah dan nukleofil
lemah, dan dalam pelarut polar, halida tersier memberikan hasil utama subtitusi
(SN1), tetapi sedikit eliminasi (E1) juga terjadi. Halida primer bereaksi hanya melalui
mekanisme-mekanisme SN2 dan E2, karena mereka tidak terionisasi menjadi ion
karbonium. Halida sekunder menempati kedudukan pertengahan, dan mekanisme
yang terjadi sangat dipengaruhi oleh keadaan reaksi. Halida-halida sekunder dapat
bereaksi melalui mekanisme SN1 dan SN2 secara serentak.
tidak menggunakan ion hidroksida, melainkan air. Air merupakan basa yang lebih
lemah daripada ion hidroksida, sehingga reaksi E2 ditekan. Air juga merupakan
pelarut polar, yang menguntungkan mekanisme ionisasi. Dalam hal ini, E1 tidak
dapat dihindari sebab persaingan antara E1 dan SN1 cukup berat.
Hasil utama adalah hasil subtitusi (80%), tetapi eliminasi masih terjadi (20%).
Ringkasannya, halida tersier bereaksi dengan basa kuat dalam pelarut nonpolar
memberikan eliminasi (E2), bukan subtitusi. Dengan basa lemah dan nukleofil
lemah, dan dalam pelarut polar, halida tersier memberikan hasil utama subtitusi
(SN1), tetapi sedikit eliminasi (E1) juga terjadi. Halida primer bereaksi hanya melalui
mekanisme-mekanisme SN2 dan E2, karena mereka tidak terionisasi menjadi ion
karbonium. Halida sekunder menempati kedudukan pertengahan, dan mekanisme
yang terjadi sangat dipengaruhi oleh keadaan reaksi. Halida-halida sekunder dapat
bereaksi melalui mekanisme SN1 dan SN2 secara serentak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar